Jakarta, 9 September 2026 – PT Jasa Marga (Persero) Tbk mencatatkan kinerja positif sepanjang semester pertama 2026 dengan pendapatan dari bisnis jalan tol mencapai Rp9,5 triliun. Angka tersebut tumbuh sekitar 6,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp8,9 triliun. Pertumbuhan pendapatan tol menjadi penopang utama pendapatan usaha perseroan yang mencapai Rp10,3 triliun atau meningkat 7,6 persen secara tahunan. Selain bisnis jalan tol, Jasa Marga juga memperoleh pendapatan usaha lainnya sebesar Rp798,2 miliar yang tumbuh 17,6 persen dibandingkan semester pertama 2025. Kinerja tersebut ikut mendorong laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi sekitar Rp1,9 triliun. Pencapaian ini menunjukkan bisnis inti jalan tol masih memberikan kontribusi dominan terhadap performa perusahaan di tengah ekspansi jaringan dan pembangunan sejumlah proyek baru.
Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono menilai capaian semester pertama 2026 menunjukkan kemampuan perseroan menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus mempertahankan kesehatan finansial. Menurutnya, kondisi keuangan dan arus kas yang sehat menjadi modal penting untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada pengguna jalan. Perusahaan masih membutuhkan investasi besar untuk melakukan pemeliharaan jalan, peremajaan fasilitas serta pengembangan teknologi pengelolaan lalu lintas. Karena itu, pertumbuhan pendapatan tidak hanya dipandang dari sisi keuntungan, tetapi juga sebagai sumber pembiayaan untuk menjaga standar layanan pada jaringan yang telah beroperasi. Perseroan juga berupaya memastikan peningkatan kinerja finansial berjalan beriringan dengan perbaikan pengalaman pengguna jalan tol. Strategi tersebut menjadi semakin penting karena jaringan yang dikelola Jasa Marga terus bertambah dan menghubungkan sejumlah kawasan ekonomi utama di Indonesia.
Kinerja pendapatan tol juga ditopang oleh meningkatnya mobilitas kendaraan sepanjang enam bulan pertama tahun ini. Jasa Marga mencatat volume transaksi mencapai sekitar 647,5 juta kendaraan atau bertambah 1,7 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Sementara itu, realisasi lalu lintas harian rata-rata tercatat sekitar 3,58 juta kendaraan per hari pada jaringan yang dikelola perseroan. Peningkatan mobilitas memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan pendapatan meskipun besarnya kenaikan transaksi kendaraan lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pendapatan tol. Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi komposisi perjalanan, ruas yang digunakan serta penyesuaian tarif pada sejumlah jaringan. Aktivitas perjalanan masyarakat, distribusi logistik dan mobilitas antarkota tetap menjadi faktor penting yang menentukan kinerja operasional perusahaan. Dengan jaringan yang semakin terhubung, Jasa Marga berupaya menjaga kelancaran lalu lintas sekaligus mengoptimalkan potensi pertumbuhan kendaraan.
Dari sisi profitabilitas operasional, perseroan membukukan EBITDA sekitar Rp7 triliun sepanjang semester pertama 2026. Nilai tersebut meningkat 8,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dengan margin EBITDA tetap berada pada level sekitar 67,8 persen. Kenaikan EBITDA yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan volume transaksi menunjukkan perusahaan mampu menjaga efisiensi operasional di tengah kebutuhan pemeliharaan dan pengembangan jaringan. Sementara laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat sekitar 2 persen menjadi Rp1,9 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, laba bersih berada di kisaran Rp1,87 triliun. Pertumbuhan laba memang tidak sebesar kenaikan pendapatan usaha, tetapi masih menunjukkan kemampuan perusahaan mempertahankan keuntungan ketika kebutuhan investasi infrastruktur tetap tinggi.
Jika memasukkan pendapatan konstruksi, laporan keuangan konsolidasian Jasa Marga menunjukkan total pendapatan sekitar Rp13,11 triliun pada akhir Juni 2026. Angka tersebut justru mengalami penurunan sekitar 6 persen dibandingkan semester pertama 2025 yang mencapai sekitar Rp13,94 triliun. Perbedaan ini terjadi karena pendapatan konstruksi turun cukup tajam dari sekitar Rp4,36 triliun menjadi Rp2,80 triliun. Pendapatan konstruksi memiliki karakter berbeda dengan pendapatan tol karena berkaitan dengan aktivitas pembangunan konsesi jalan tol dan pencatatannya mengikuti perkembangan proyek. Karena itu, penurunan total pendapatan konsolidasian tidak berarti bisnis utama Jasa Marga mengalami kontraksi. Pendapatan operasional yang berasal dari tarif tol dan usaha lainnya justru masih menunjukkan pertumbuhan sepanjang enam bulan pertama tahun ini.
Penurunan aktivitas konstruksi juga membuat beban konstruksi ikut berkurang sehingga membantu menjaga profitabilitas perusahaan. Beban pokok pendapatan secara keseluruhan turun menjadi sekitar Rp7 triliun, sedangkan laba kotor meningkat menjadi sekitar Rp6,1 triliun. Laba kotor tersebut tumbuh lebih dari 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan perubahan komposisi pendapatan perusahaan memberikan pengaruh terhadap struktur biaya sekaligus margin keuntungan. Bagi perusahaan jalan tol, pendapatan konstruksi memang dapat menyebabkan nilai pendapatan konsolidasian berfluktuasi cukup besar antarperiode meskipun tidak selalu menggambarkan perubahan performa operasional jalan tol. Karena itu, pendapatan tol, volume transaksi, EBITDA dan laba bersih menjadi sejumlah indikator penting untuk melihat kondisi bisnis inti perseroan.
Jasa Marga hingga akhir Juni 2026 memiliki konsesi jalan tol sepanjang sekitar 1.736 kilometer. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.294 kilometer telah beroperasi dan melayani perjalanan masyarakat maupun distribusi logistik. Jaringan yang dioperasikan perseroan setara dengan sekitar 42 persen dari keseluruhan jalan tol yang telah beroperasi di Indonesia, sehingga Jasa Marga masih mempertahankan posisi sebagai salah satu pemain terbesar dalam industri tersebut. Skala jaringan yang luas memberikan sumber pendapatan berulang dari transaksi kendaraan, tetapi pada saat bersamaan membutuhkan biaya pemeliharaan yang besar. Jalan, jembatan, gerbang tol, sistem transaksi, kamera pemantauan hingga fasilitas keselamatan harus terus dijaga agar memenuhi standar pelayanan. Perseroan karena itu menempatkan pemeliharaan dan modernisasi sebagai bagian penting dari penggunaan arus kas yang diperoleh dari kegiatan operasional.
Ekspansi jaringan juga terus dilakukan melalui sejumlah proyek strategis yang sedang berada dalam tahap pembangunan. Beberapa proyek tersebut meliputi Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Selatan, Akses Patimban, Yogyakarta-Bawen, Solo-Yogyakarta-NYIA Kulon Progo serta Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi. Pengembangan ruas tersebut diarahkan untuk memperkuat hubungan antara kawasan industri, pelabuhan, pusat ekonomi, destinasi wisata dan jaringan jalan tol yang sudah tersedia. Jasa Marga tidak hanya melihat setiap proyek sebagai ruas yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian dari jaringan yang dapat menghasilkan lalu lintas baru. Ketika konektivitas antarruas semakin baik, kendaraan mempunyai lebih banyak pilihan perjalanan melalui jaringan tol. Strategi tersebut diharapkan memberikan sumber pertumbuhan jangka panjang setelah ruas-ruas baru mulai beroperasi secara penuh.
Selain memperluas jaringan fisik, perusahaan juga mendorong transformasi layanan melalui penggunaan teknologi. Sistem pengelolaan lalu lintas terus dikembangkan untuk membantu petugas merespons kecelakaan, kemacetan maupun gangguan perjalanan secara lebih cepat. Informasi kondisi jalan juga diperluas melalui pusat kendali lalu lintas, aplikasi perjalanan, radio dan papan informasi elektronik di sepanjang koridor tol. Rest area secara bertahap dikembangkan agar tidak hanya menjadi tempat berhenti, tetapi juga menjadi kawasan pelayanan yang mendukung kegiatan ekonomi dan usaha mikro. Infrastruktur pengisian kendaraan listrik ikut diperluas seiring bertambahnya kendaraan listrik yang digunakan masyarakat. Kombinasi antara digitalisasi dan pengembangan fasilitas tersebut diharapkan membuat peningkatan pendapatan perusahaan tetap diikuti perbaikan kualitas pelayanan.
Kinerja semester pertama 2026 memberikan fondasi bagi Jasa Marga untuk melanjutkan pertumbuhan hingga akhir tahun, meskipun perusahaan masih menghadapi tantangan berupa kebutuhan investasi besar, biaya pemeliharaan dan dinamika lalu lintas kendaraan. Pendapatan tol sebesar Rp9,5 triliun memperlihatkan bisnis inti perseroan tetap tumbuh, sementara pendapatan usaha lainnya mulai memberikan kontribusi yang semakin besar. Dengan 647,5 juta transaksi kendaraan dalam enam bulan, jaringan jalan tol tetap menjadi salah satu infrastruktur utama yang menopang mobilitas masyarakat dan kegiatan ekonomi. Perseroan kini berupaya mempertahankan pertumbuhan tersebut sambil memperluas jaringan konsesi dan meningkatkan kualitas layanan di ruas yang sudah beroperasi. Keseimbangan antara ekspansi, kesehatan finansial dan pelayanan akan menjadi faktor penting bagi kinerja Jasa Marga pada periode berikutnya. Jika pertumbuhan lalu lintas dapat dipertahankan, bisnis jalan tol diperkirakan tetap menjadi sumber pendapatan terbesar perseroan sepanjang 2026.




