Jakarta, 1 Oktober 2026 – Kinerja ekspor Jakarta mengalami tekanan pada Agustus 2026 setelah nilai pengiriman produk ke luar negeri tercatat turun hampir 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pelemahan tersebut menjadi perhatian karena terjadi setelah ekspor Jakarta pada beberapa bulan sebelumnya menunjukkan pergerakan yang beragam. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta mencatat perubahan kinerja terutama berkaitan dengan ekspor nonmigas yang selama ini mendominasi struktur ekspor daerah. Kondisi tersebut turut memengaruhi perkembangan ekspor kumulatif Jakarta sepanjang delapan bulan pertama 2026.
Industri pengolahan masih menjadi sektor utama yang menentukan pergerakan ekspor Jakarta. Pada Januari–Juni 2026, sektor tersebut bahkan menyumbang sekitar 97,79 persen terhadap ekspor Jakarta dan mencatat pertumbuhan 5,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Besarnya kontribusi industri pengolahan membuat perubahan permintaan terhadap produk manufaktur memiliki pengaruh kuat terhadap keseluruhan nilai ekspor. Sejumlah komoditas unggulan Jakarta antara lain logam mulia dan perhiasan, kendaraan dan bagiannya, alas kaki, ikan, serta pakaian dan aksesori.
Sebelum memasuki Agustus, nilai ekspor Jakarta secara kumulatif Januari–Juli 2026 telah mencapai sekitar 9,87 miliar dolar AS. Pada akhir Juni, nilai kumulatifnya masih sebesar 8,59 miliar dolar AS atau tumbuh 4,04 persen dibandingkan Januari–Juni 2025. Namun, ekspor pada Juni sendiri telah terkontraksi 9,43 persen secara tahunan menjadi sekitar 1,26 miliar dolar AS. Perkembangan tersebut menunjukkan tekanan terhadap ekspor sudah terlihat sebelum penurunan yang lebih dalam terjadi pada Agustus.
Pergerakan ekspor Jakarta sepanjang 2026 memang mengalami fluktuasi cukup besar. Pada Februari, nilai ekspor sebesar 1,35 miliar dolar AS atau turun 10,55 persen secara tahunan, sebelum kemudian meningkat menjadi sekitar 1,63 miliar dolar AS pada Maret. April juga mencatat pertumbuhan kuat secara tahunan, sedangkan Mei kembali mengalami kontraksi sebesar 7,61 persen. Pola tersebut memperlihatkan kinerja perdagangan luar negeri Jakarta masih sensitif terhadap perubahan permintaan dan nilai ekspor sejumlah komoditas utama.
Dari sisi pasar, Thailand, Amerika Serikat, dan Tiongkok menjadi tiga tujuan penting bagi ekspor produk Jakarta sepanjang paruh pertama 2026. Nilai ekspor ke tiga negara tersebut secara bersama-sama memberikan kontribusi sekitar 37,1 persen terhadap total ekspor Jakarta pada Januari–Juni. Thailand terutama menjadi tujuan produk logam mulia dan perhiasan, sedangkan ekspor ke Amerika Serikat banyak ditopang alas kaki, ikan, pakaian, dan aksesori. Adapun pengiriman ke Tiongkok antara lain didominasi kelompok lemak dan minyak hewani maupun nabati.
Tekanan terhadap ekspor daerah terjadi ketika kinerja perdagangan Indonesia secara nasional justru masih tumbuh. BPS mencatat nilai ekspor nasional pada Agustus 2026 mencapai 26,61 miliar dolar AS atau meningkat 6,72 persen dibandingkan Agustus 2025. Secara kumulatif, ekspor Indonesia selama Januari–Agustus mencapai 193,64 miliar dolar AS, tumbuh 4,74 persen secara tahunan. Perbedaan arah tersebut menunjukkan perkembangan ekspor Jakarta pada Agustus tidak sepenuhnya mencerminkan tren perdagangan nasional.
Perkembangan ekspor selanjutnya akan menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati dalam melihat ketahanan sektor eksternal perekonomian Jakarta. Bank Indonesia sebelumnya memperkirakan ekspor Jakarta sepanjang 2026 tetap tumbuh moderat seiring perlambatan permintaan global, sementara impor masih tinggi untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dan barang modal. Ketidakpastian global, ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan, serta dinamika nilai tukar rupiah juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi permintaan eksternal. Karena itu, pemulihan ekspor pada bulan-bulan berikutnya akan bergantung pada perkembangan pasar global sekaligus kinerja komoditas unggulan Jakarta.




