Jakarta, 30 Juli 2026 – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut jumlah pengunjung Jakarta International Stadium atau JIS meningkat hingga empat kali lipat setelah konektivitas kawasan tersebut diperkuat dengan Ancol dan jaringan stasiun. Peningkatan akses dinilai membuat masyarakat lebih mudah mencapai stadion tanpa sepenuhnya bergantung pada kendaraan pribadi. Konektivitas juga membuka peluang JIS berkembang bukan hanya sebagai lokasi pertandingan sepak bola atau konser, tetapi menjadi bagian dari kawasan aktivitas publik di Jakarta Utara. Integrasi transportasi menjadi faktor penting karena kapasitas JIS yang besar membutuhkan sistem pergerakan pengunjung yang mampu menangani arus dalam jumlah tinggi. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun terus mendorong kawasan tersebut agar semakin mudah dijangkau dari berbagai bagian ibu kota.
Menurut Pramono, perubahan akses menuju JIS memberikan dampak nyata terhadap tingkat kunjungan masyarakat. Sebelumnya, persoalan konektivitas menjadi salah satu tantangan yang kerap muncul ketika stadion digunakan untuk kegiatan dengan jumlah penonton besar. Pengunjung yang mengandalkan kendaraan pribadi dapat menghadapi persoalan parkir dan kepadatan lalu lintas ketika datang maupun meninggalkan kawasan secara bersamaan. Kehadiran koneksi menuju transportasi publik memberikan alternatif perjalanan yang lebih praktis. Semakin banyak pilihan moda, semakin besar pula kemampuan kawasan menampung pergerakan pengunjung tanpa menambah tekanan berlebihan pada jalan di sekitar stadion.
Keterhubungan dengan kawasan Ancol juga memberikan nilai strategis karena memungkinkan aktivitas JIS terintegrasi dengan salah satu kawasan wisata utama Jakarta Utara. Pengunjung dapat memiliki lebih banyak pilihan kegiatan dalam satu perjalanan, terutama ketika datang untuk menghadiri pertandingan, konser, pameran, atau acara lainnya. Hubungan antarkawasan dapat menciptakan pergerakan masyarakat yang lebih dinamis dan memperpanjang waktu kunjungan. Dampaknya berpotensi dirasakan pelaku usaha, transportasi, kuliner, serta berbagai layanan di sekitar kawasan. JIS kemudian dapat berkembang sebagai salah satu titik penggerak aktivitas ekonomi baru di bagian utara Jakarta.
Akses menuju stasiun menjadi bagian penting dalam strategi tersebut karena kereta dapat mengangkut penumpang dalam jumlah besar tanpa membutuhkan ruang jalan sebanyak kendaraan pribadi. Untuk stadion dengan kapasitas puluhan ribu orang, kemampuan memindahkan pengunjung sebelum dan setelah acara menjadi bagian penting dari pengelolaan kawasan. Integrasi yang baik membutuhkan jalur pejalan kaki yang nyaman, informasi perjalanan yang jelas, serta koneksi antarmoda yang mudah digunakan. Jadwal layanan juga perlu mempertimbangkan waktu berakhirnya acara besar agar pengunjung tetap memiliki pilihan transportasi publik. Dengan demikian, konektivitas tidak berhenti pada keberadaan infrastruktur, tetapi juga pengalaman perjalanan dari awal hingga akhir.
Klaim kenaikan pengunjung hingga empat kali lipat dapat menjadi indikator bahwa aksesibilitas memiliki pengaruh besar terhadap pemanfaatan fasilitas publik. Infrastruktur berkapasitas besar dapat kehilangan potensi apabila masyarakat menghadapi kesulitan untuk mencapainya. Sebaliknya, transportasi yang terintegrasi dapat memperluas kelompok masyarakat yang mampu menggunakan fasilitas tersebut. JIS berpotensi menarik pengunjung dari berbagai wilayah Jakarta maupun kawasan penyangga apabila perjalanan dapat dilakukan dengan mudah. Peningkatan kunjungan juga memberikan alasan lebih kuat untuk menghadirkan kegiatan secara rutin sepanjang tahun.
Pemanfaatan JIS di luar pertandingan sepak bola menjadi salah satu peluang yang dapat dikembangkan. Stadion dapat digunakan untuk konser, kegiatan komunitas, olahraga, festival, hingga berbagai agenda berskala nasional dan internasional. Semakin tinggi frekuensi kegiatan, semakin besar pula kebutuhan terhadap manajemen transportasi yang konsisten. Pemerintah perlu memastikan lonjakan pengunjung tidak menimbulkan persoalan baru bagi permukiman dan aktivitas masyarakat di sekitar stadion. Pengaturan lalu lintas, kebersihan, keamanan, serta akses pejalan kaki harus berkembang seiring meningkatnya intensitas penggunaan kawasan.
Peningkatan jumlah pengunjung juga dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar apabila dikelola dengan baik. Usaha kuliner, perdagangan, transportasi lokal, hingga layanan pendukung acara dapat memperoleh peluang dari meningkatnya arus masyarakat. Penataan ruang usaha diperlukan agar aktivitas ekonomi dapat berkembang tanpa mengganggu akses maupun ketertiban. Pemerintah daerah dapat memanfaatkan perkembangan kawasan untuk mendorong keterlibatan usaha mikro dan kecil. Dengan demikian, manfaat JIS tidak hanya berasal dari penyelenggaraan acara, tetapi juga aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekelilingnya.
Pernyataan Pramono mengenai kenaikan pengunjung JIS hingga empat kali lipat setelah terhubung dengan Ancol dan stasiun menunjukkan pentingnya konektivitas dalam mengoptimalkan infrastruktur publik berskala besar. Tantangan berikutnya adalah menjaga kualitas akses ketika jumlah kegiatan dan pengunjung terus bertambah. Integrasi transportasi publik, jalur pejalan kaki, pengaturan kawasan, serta pengelolaan acara perlu berjalan sebagai satu sistem. Apabila konektivitas terus diperkuat, JIS berpeluang berkembang menjadi pusat olahraga dan hiburan yang semakin aktif sekaligus menggerakkan kawasan Jakarta Utara. Peningkatan kunjungan pada akhirnya dapat menjadi tolok ukur bahwa pembangunan fasilitas besar perlu selalu dibarengi akses transportasi yang mudah, terintegrasi, dan mampu digunakan masyarakat luas.




