Surakarta, 3 September 2026 – Penanganan kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo di Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, diperkuat dengan rencana pemadaman dari udara menggunakan metode water bombing setelah kobaran api belum sepenuhnya dapat dikendalikan melalui operasi darat. Pemerintah Kota Surakarta mendapatkan dukungan kepolisian untuk mengerahkan helikopter yang akan menjatuhkan air langsung ke kawasan gunungan sampah, terutama titik-titik yang sulit dijangkau armada pemadam kebakaran. Langkah tersebut dipilih karena api telah merambat di Blok B, C, dan D serta sebagian titik pembakaran berada jauh di dalam tumpukan sampah. Kondisi tersebut membuat penyemprotan dari kendaraan pemadam tidak selalu mampu mencapai sumber panas secara maksimal. Kebakaran telah berlangsung sejak Rabu, 2 September 2026, dan petugas terus bekerja bergantian untuk membatasi perluasan area terdampak. Pemerintah daerah kemudian meningkatkan status penanganan dengan menetapkan tanggap darurat bencana selama 14 hari terhitung mulai 3 September 2026. Operasi water bombing diharapkan mempercepat proses pendinginan sekaligus membantu petugas darat menangani area yang selama ini sulit dijangkau. Pelaksanaan pemadaman dari udara tetap mempertimbangkan kondisi cuaca, jarak pandang, serta keamanan penerbangan di sekitar lokasi.
Wali Kota Surakarta Respati Ardi mengatakan dukungan water bombing menjadi salah satu langkah yang dipersiapkan setelah dilakukan evaluasi terhadap perkembangan kebakaran di lapangan. Pemerintah kota sebelumnya menggelar rapat koordinasi bersama berbagai unsur yang terlibat dalam penanganan, termasuk BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, kepolisian, TNI, perangkat kecamatan dan kelurahan, serta pengelola TPA. Dari evaluasi tersebut diketahui bahwa sebagian api berada di bagian dalam gunungan sampah sehingga membutuhkan metode pemadaman tambahan. Armada pemadam dari darat menghadapi keterbatasan jarak semprotan dan tidak dapat mendekati seluruh titik karena karakter medan di kawasan TPA. Beberapa bagian gunungan sampah juga memiliki lereng yang membuat kendaraan maupun personel sulit bergerak dengan aman. Pemerintah kemudian berkoordinasi dengan jajaran kepolisian untuk memperoleh dukungan helikopter pemadam. Water bombing direncanakan dilakukan ketika cuaca cukup terang sehingga operasi udara dapat berlangsung dengan aman dan efektif. Pemerintah berharap kombinasi pemadaman udara dan darat mampu mempercepat proses lokalisasi api sekaligus mengurangi produksi asap dari tumpukan sampah yang masih terbakar.
Kebakaran TPA Putri Cempo pertama kali diketahui pada Rabu malam dan kemudian meluas ke sejumlah blok akibat karakter material yang mudah terbakar. Tumpukan sampah menyimpan berbagai bahan organik maupun material lain yang dapat mempertahankan panas dalam waktu panjang, sehingga api tidak selalu terlihat dari permukaan meskipun pembakaran masih berlangsung di bagian dalam. Gas yang terbentuk dari proses penguraian sampah juga dapat memperbesar risiko kebakaran ketika bertemu dengan sumber panas. Situasi tersebut menyebabkan pemadaman di TPA memiliki tingkat kesulitan berbeda dibandingkan kebakaran bangunan biasa. Air yang disemprotkan ke permukaan belum tentu langsung mencapai titik panas yang berada jauh di dalam gunungan sampah. Petugas karena itu harus melakukan penyemprotan secara terus-menerus sekaligus memantau area yang terlihat sudah padam untuk mencegah api muncul kembali. Hingga Kamis malam, kobaran maupun bara masih terlihat di sejumlah bagian Blok B, C, dan D. Kondisi itulah yang menjadi salah satu pertimbangan utama penggunaan helikopter untuk menjangkau area dari atas.
Skala penanganan juga diperbesar dengan mendatangkan bantuan armada pemadam dan personel dari berbagai wilayah di sekitar Surakarta. Bantuan datang antara lain dari Klaten, Boyolali, Sukoharjo, Sragen, Wonogiri, Karanganyar, serta sejumlah daerah lain di Jawa Tengah. Personel TNI dan Polri bersama relawan ikut membantu pengamanan, distribusi logistik, pengaturan area, serta berbagai kebutuhan selama operasi berlangsung. Penambahan kekuatan diperlukan karena proses pemadaman berlangsung lebih dari satu hari dan membutuhkan pergantian personel agar kondisi fisik petugas tetap terjaga. Operasi di kawasan gunungan sampah memiliki risiko tinggi karena permukaan dapat berubah, terdapat material tajam, dan asap dapat mengganggu pernapasan maupun jarak pandang. Petugas juga harus berhati-hati ketika mendekati area yang tampak padam karena bagian bawah tumpukan masih dapat menyimpan suhu tinggi. Koordinasi lintas instansi dilakukan agar pergerakan kendaraan dan personel tidak saling menghambat di jalur yang memiliki ruang terbatas. Seluruh kekuatan diarahkan untuk mempersempit area kebakaran sebelum proses pendinginan menyeluruh dilakukan.
Penetapan status tanggap darurat selama 14 hari memberikan ruang bagi Pemerintah Kota Surakarta untuk memperkuat koordinasi dan mobilisasi sumber daya dalam menangani kebakaran. Keputusan tersebut diambil setelah pemerintah mengevaluasi tingkat risiko, perkembangan titik api, serta dampak asap terhadap lingkungan di sekitar TPA. Status tanggap darurat tidak berarti kebakaran diperkirakan berlangsung selama dua pekan, tetapi menjadi kerangka waktu penanganan agar kebutuhan personel, peralatan, logistik, dan koordinasi dapat dipenuhi secara lebih cepat. Apabila api dapat dipadamkan lebih awal, tahapan berikutnya tetap membutuhkan pendinginan dan pemantauan untuk mencegah munculnya kembali titik panas. Tumpukan sampah yang sangat tebal memungkinkan panas bertahan meskipun kobaran di permukaan sudah tidak terlihat. Karena itu, petugas harus memastikan area benar-benar aman sebelum operasi dinyatakan selesai. Pemerintah kota juga terus memantau kualitas lingkungan di sekitar lokasi karena asap telah bergerak menuju kawasan permukiman. Evaluasi dilakukan secara berkala untuk menentukan apakah diperlukan langkah perlindungan masyarakat tambahan.
Dampak asap menjadi perhatian besar karena TPA Putri Cempo berada tidak terlalu jauh dari permukiman dan kawasan aktivitas masyarakat. Sejumlah warga sempat mengalami gangguan akibat asap dan sebagian telah mendapatkan penanganan maupun tempat evakuasi sementara. Pemerintah menyiapkan lokasi pengungsian di kawasan Kelurahan Mojosongo apabila kondisi udara memburuk dan masyarakat perlu meninggalkan rumah untuk sementara. Petugas kesehatan juga disiagakan untuk menangani keluhan yang berkaitan dengan paparan asap, terutama gangguan pada saluran pernapasan dan mata. Anak-anak, kelompok lanjut usia, serta warga dengan riwayat gangguan pernapasan menjadi kelompok yang membutuhkan perhatian lebih besar. Asap dari kebakaran sampah dapat membawa partikel halus dan berbagai senyawa hasil pembakaran sehingga masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara memburuk. Penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan sederhana yang dapat dilakukan ketika asap masih terasa di lingkungan tempat tinggal. Pemadaman yang lebih cepat diharapkan dapat mengurangi intensitas asap sekaligus menekan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat sekitar.
Penggunaan water bombing diprioritaskan untuk sisi kawasan yang tidak dapat dijangkau secara optimal melalui pemadaman darat. Helikopter dapat mengambil air dari sumber yang telah ditentukan sebelum terbang menuju titik sasaran dan menjatuhkannya langsung di atas area yang masih mengeluarkan asap atau kobaran. Setiap penerbangan membutuhkan koordinasi dengan petugas di darat agar air dijatuhkan pada lokasi yang tepat dan tidak membahayakan personel. Selama operasi udara berlangsung, pergerakan armada darat di area tertentu dapat dihentikan sementara untuk memberikan ruang yang aman bagi helikopter. Setelah penjatuhan air selesai, tim darat kembali melakukan pemeriksaan dan pembasahan lanjutan terhadap titik yang masih panas. Metode tersebut diharapkan lebih efektif untuk mengatasi bagian lereng maupun puncak gunungan sampah yang sebelumnya sulit dicapai selang pemadam. Water bombing bukan satu-satunya metode yang digunakan karena air dari udara tetap harus dikombinasikan dengan penyemprotan dan pendinginan dari darat. Keberhasilan operasi sangat bergantung pada ketepatan penjatuhan air, kondisi angin, serta kemampuan air menembus material yang masih menyimpan bara.
Kebakaran di TPA Putri Cempo juga menjadi tantangan karena kawasan tersebut memiliki riwayat kejadian serupa. Tumpukan sampah dalam jumlah besar dapat menghasilkan gas metana sebagai bagian dari proses pembusukan material organik, terutama apabila sistem pengelolaan dan pengendalian gas tidak berjalan secara optimal. Dalam kondisi tertentu, gas yang mudah terbakar dapat meningkatkan risiko ketika terdapat panas atau percikan api. Musim kering juga membuat material di permukaan menjadi lebih mudah terbakar dan memungkinkan api menyebar dengan cepat sebelum dapat dikendalikan. Setelah kebakaran kali ini selesai ditangani, evaluasi terhadap penyebab kejadian menjadi bagian penting untuk menentukan langkah pencegahan jangka panjang. Pemerintah perlu mengetahui titik awal api dan faktor yang menyebabkan kebakaran berkembang hingga mencakup beberapa blok. Pengelolaan tumpukan, akses kendaraan pemadam, ketersediaan sumber air, serta sistem pemantauan titik panas dapat menjadi bagian yang dievaluasi. Langkah tersebut diperlukan agar kejadian serupa tidak terus berulang dan menghasilkan dampak besar terhadap lingkungan maupun masyarakat.
Operasi pemadaman juga membutuhkan dukungan logistik karena personel bekerja dalam waktu panjang di lingkungan dengan suhu tinggi dan paparan asap. Ketersediaan air minum, makanan, masker, perlengkapan pelindung, serta layanan kesehatan menjadi kebutuhan dasar bagi tim yang berada di lapangan. Pergantian personel dilakukan untuk mencegah kelelahan karena kondisi fisik dapat memengaruhi keselamatan ketika bekerja di sekitar gunungan sampah. Selain menghadapi api, petugas harus memperhatikan kemungkinan longsoran tumpukan sampah yang dapat terjadi apabila struktur menjadi tidak stabil setelah terkena air dalam jumlah besar. Penggunaan alat berat juga perlu dilakukan secara hati-hati untuk membuka akses atau memindahkan material tanpa memperbesar risiko bagi personel. Komunikasi antartim menjadi sangat penting karena operasi melibatkan banyak instansi dan kendaraan dari berbagai daerah. Pos koordinasi digunakan untuk mengatur pembagian area kerja serta perkembangan terbaru dari setiap titik kebakaran. Pendekatan terpadu tersebut diharapkan membuat seluruh sumber daya dapat digunakan secara efektif sampai api benar-benar terkendali.
Penanganan TPA Putri Cempo tidak berhenti ketika kobaran terakhir berhasil dipadamkan karena tahap pendinginan dapat membutuhkan waktu cukup panjang. Petugas harus terus mencari titik panas yang masih tersimpan di bawah tumpukan sampah dengan melakukan pemeriksaan dan pembasahan berulang. Apabila terdapat bagian yang kembali mengeluarkan asap, penyemprotan harus segera dilakukan sebelum bara berkembang menjadi api terbuka. Pemantauan juga penting pada malam hari ketika perubahan angin dapat membawa oksigen ke bagian tumpukan yang masih menyimpan panas. Pemerintah daerah perlu memastikan kawasan tidak kembali mengalami kebakaran setelah operasi besar dihentikan. Selain itu, kualitas udara di sekitar TPA perlu terus diperhatikan sampai asap benar-benar berkurang dan masyarakat dapat beraktivitas dengan aman. Infrastruktur maupun fasilitas operasional yang terdampak juga perlu diperiksa sebelum kegiatan pengelolaan sampah kembali berjalan normal. Tahapan pascakebakaran akan menjadi bagian penting untuk memastikan risiko lanjutan dapat ditekan semaksimal mungkin.
Dukungan water bombing menjadi bagian dari upaya mempercepat penanganan kebakaran TPA Putri Cempo setelah operasi darat menghadapi keterbatasan menjangkau sejumlah titik. Pemerintah Kota Surakarta bersama kepolisian, TNI, BPBD, pemadam kebakaran, pemerintah daerah sekitar, dan relawan terus mengerahkan sumber daya untuk mengendalikan api serta melindungi masyarakat dari dampak asap. Status tanggap darurat selama 14 hari memberikan dasar bagi pemerintah untuk mempertahankan kesiapan personel dan peralatan sampai kondisi benar-benar aman. Prioritas jangka pendek adalah memadamkan titik yang masih aktif, mengurangi asap, serta memastikan tidak terjadi perluasan kebakaran menuju bagian TPA lainnya. Setelah itu, pendinginan dan pengawasan akan dilakukan untuk mengantisipasi bara yang masih tersembunyi di dalam tumpukan sampah. Pemerintah juga perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyebab kejadian dan sistem pencegahan kebakaran di kawasan tersebut. Hasil evaluasi nantinya dapat digunakan untuk memperbaiki akses pemadaman, pengelolaan gas, pemantauan suhu, serta tata kelola gunungan sampah. Dengan kombinasi operasi udara dan darat, kebakaran diharapkan dapat segera dikendalikan sehingga risiko kesehatan, lingkungan, dan aktivitas masyarakat di sekitar Putri Cempo dapat ditekan.






