Jakarta, 10 Mei 2026 – Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan menjelang akhir pekan. Tekanan terhadap mata uang Garuda dipengaruhi oleh penguatan dolar AS serta meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi global dan ketegangan geopolitik internasional.
Pada penutupan perdagangan, rupiah tercatat bergerak di kisaran level Rp16.300-an per dolar AS. Pergerakan tersebut mencerminkan tekanan yang masih dialami mata uang negara berkembang akibat arus modal global yang cenderung mengarah ke aset aman berbasis dolar.
Penguatan dolar AS dipicu ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang masih ketat. Investor global disebut masih menunggu arah kebijakan bank sentral AS di tengah kondisi inflasi dan pertumbuhan ekonomi dunia yang belum sepenuhnya stabil.
Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga memantau kondisi ekonomi domestik seperti inflasi, neraca perdagangan, dan perkembangan cadangan devisa Indonesia. Pergerakan rupiah dinilai masih cukup sensitif terhadap dinamika global, terutama terkait harga energi dan konflik geopolitik internasional.
Bank Indonesia disebut terus melakukan langkah stabilisasi di pasar keuangan guna menjaga nilai tukar rupiah tetap terkendali. Intervensi pasar valuta asing dan koordinasi kebijakan dengan pemerintah menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Pengamat pasar uang menilai pelemahan rupiah saat ini masih dalam batas yang relatif terkendali dibanding tekanan yang dialami sejumlah mata uang negara berkembang lainnya. Fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup solid didukung pertumbuhan ekonomi domestik dan aktivitas ekspor.
Meski demikian, pelaku pasar diperkirakan tetap akan bersikap hati-hati dalam beberapa waktu ke depan sambil menunggu perkembangan kondisi ekonomi global dan arah kebijakan moneter internasional yang dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah selanjutnya.







