Jakarta, 22 Agustus 2026 – Gedung Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) DKI Jakarta kembali mengalami kebakaran pada Jumat, 21 Agustus 2026. Insiden tersebut menjadi kebakaran kedua yang terjadi di gedung yang berlokasi di Jalan Abdul Muis Nomor 66, Petojo Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, dalam rentang waktu sekitar dua pekan. Kebakaran terbaru dilaporkan terjadi di ruang arsip yang berada di lantai 11 gedung. Petugas pemadam kebakaran langsung dikerahkan setelah laporan diterima dan berhasil melokalisasi api dalam waktu relatif singkat. Kondisi gedung kemudian dipantau dan sejumlah area masih mendapatkan penanganan untuk memastikan tidak ada sisa bara yang dapat memicu kebakaran kembali.

Laporan kebakaran diterima Command Center Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta sekitar pukul 17.10 WIB. Petugas dari wilayah Gambir kemudian bergerak menuju lokasi dan tiba sekitar pukul 17.18 WIB. Sebanyak delapan unit kendaraan pemadam kebakaran dengan dukungan sekitar 30 personel dikerahkan untuk menangani kejadian tersebut. Operasi pemadaman dimulai sekitar pukul 17.20 WIB dan api berhasil dilokalisasi sekitar pukul 17.25 WIB. Setelah kobaran berhasil dikendalikan, petugas melanjutkan proses pendinginan serta mengurai material yang terbakar untuk memastikan tidak terdapat titik panas yang masih berpotensi menimbulkan penyalaan kembali.

Kebakaran terbaru ini memiliki skala yang berbeda dibandingkan insiden pertama yang terjadi pada 7 Agustus 2026. Pada kebakaran sebelumnya, api dilaporkan menjalar dari lantai 11 hingga beberapa lantai di atasnya dan membutuhkan pengerahan armada dalam jumlah lebih besar. Sementara pada kejadian 21 Agustus, titik kebakaran berada di ruang arsip lantai 11 dan api dapat segera dilokalisasi. Meski demikian, kejadian kedua tetap menjadi perhatian karena berlangsung di gedung yang sama ketika proses pemulihan setelah kebakaran pertama belum sepenuhnya selesai. Kondisi tersebut membuat petugas harus melakukan pemeriksaan lebih hati-hati terhadap area yang sebelumnya terdampak panas dan kebakaran.

Salah satu kendala yang muncul dalam penanganan kebakaran terbaru adalah fasilitas pompa air milik gedung yang dilaporkan tidak berfungsi dengan baik. Kondisi tersebut sempat menghambat proses pemadaman dan membuat petugas harus mengandalkan peralatan pemadam yang dibawa ke lokasi. Petugas kemudian melakukan penguraian terhadap material yang terbakar agar sumber panas dapat ditemukan dan dipastikan benar-benar padam. Penanganan seperti ini penting dilakukan pada ruang arsip karena material yang tersimpan dapat menahan panas dan bara dalam waktu tertentu. Setelah api tidak lagi terlihat, proses pendinginan tetap diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya api kembali.

Warga yang berada di sekitar Gedung Bapenda menyebut mereka lebih banyak melihat kepulan asap dibandingkan kobaran api besar. Asap terlihat dari area gedung dan menarik perhatian masyarakat yang berada di sekitar lokasi. Situasi tersebut berbeda dengan kebakaran pertama yang sempat menimbulkan kepanikan lebih besar karena api menjalar ke beberapa lantai. Pada kejadian terbaru, respons petugas yang cepat membuat api dapat segera dikendalikan sebelum berkembang lebih luas. Setelah proses pemadaman dan pendinginan selesai, aktivitas petugas di sekitar gedung kemudian berangsur berkurang.

Gedung Bapenda DKI sendiri belum kembali beroperasi secara normal sejak kebakaran pertama pada awal Agustus. Kondisi tersebut membuat sejumlah aktivitas perkantoran dialihkan sementara. Pada bagian depan gedung juga terdapat pengumuman mengenai pengalihan urusan persuratan ke sistem digital. Kebijakan tersebut dilakukan agar pelayanan administrasi tetap dapat berjalan meskipun kondisi gedung belum memungkinkan digunakan seperti biasa. Dengan terjadinya kebakaran kedua, pemeriksaan terhadap kondisi bangunan menjadi semakin penting sebelum aktivitas perkantoran dapat kembali berlangsung secara normal.

Kebakaran kedua juga memunculkan perhatian mengenai keamanan ruang arsip yang berada di lantai 11. Ruang arsip menyimpan berbagai dokumen sehingga penanganannya membutuhkan kehati-hatian, terutama setelah gedung sebelumnya mengalami kebakaran cukup besar. Material yang tersimpan di ruang tersebut dapat menjadi sumber bahan bakar apabila terkena panas atau api. Karena itu, proses pendinginan dan pemeriksaan setelah kebakaran menjadi bagian penting dalam memastikan kondisi gedung benar-benar aman. Petugas juga perlu memastikan tidak ada titik panas yang tersembunyi di antara tumpukan material.

Untuk penyebab kebakaran terbaru, belum terdapat keterangan resmi yang memastikan sumber api secara pasti. Pihak pemadam menyebut penyalaan yang terjadi berkaitan dengan kondisi suhu panas, tetapi penyebab awal munculnya api masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Penentuan penyebab tidak dapat hanya dilakukan berdasarkan kondisi saat petugas tiba di lokasi. Pemeriksaan terhadap instalasi listrik, material yang berada di ruang arsip, kondisi bangunan, serta kemungkinan sumber panas lainnya diperlukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. Apalagi kebakaran kedua terjadi dalam jarak waktu yang relatif dekat dengan kebakaran pertama.

Kondisi gedung setelah kejadian terbaru juga masih mendapat pengawasan. Pada Sabtu, 22 Agustus 2026, area Gedung Bapenda terlihat masih ditutup dan dipasangi garis polisi. Gerbang utama gedung belum kembali digunakan untuk aktivitas perkantoran seperti biasa. Sejumlah sisa material akibat kebakaran juga masih terlihat di sekitar halaman. Penutupan tersebut diperlukan untuk menjaga keamanan sekaligus memberikan ruang bagi petugas terkait melakukan pemeriksaan terhadap kondisi gedung dan area yang terdampak.

Kebakaran berulang dalam waktu singkat membuat aspek keselamatan bangunan menjadi perhatian penting. Pemeriksaan terhadap sistem pemadam internal, instalasi listrik, pompa air, jalur evakuasi, serta kondisi ruang yang terdampak perlu dilakukan secara menyeluruh. Sistem proteksi kebakaran harus dapat berfungsi ketika dibutuhkan karena keterlambatan atau gangguan pada fasilitas internal dapat mempersulit penanganan. Evaluasi juga diperlukan untuk mengetahui apakah ada bagian bangunan yang mengalami kerusakan akibat kebakaran pertama dan kemudian berpengaruh terhadap kejadian berikutnya. Langkah tersebut penting sebelum gedung kembali digunakan oleh pegawai maupun masyarakat.

Di sisi pelayanan publik, pemerintah daerah perlu memastikan gangguan terhadap operasional Bapenda tidak menghambat kebutuhan masyarakat. Pengalihan sebagian layanan ke sistem digital menjadi salah satu cara untuk mempertahankan aktivitas administrasi selama gedung belum dapat digunakan secara normal. Masyarakat yang membutuhkan layanan perpajakan juga perlu mendapatkan informasi yang jelas mengenai mekanisme pelayanan selama masa penanganan gedung. Dengan demikian, kebakaran tidak sampai menyebabkan terhentinya pelayanan kepada warga. Pemerintah juga perlu menyampaikan perkembangan kondisi gedung secara terbuka agar masyarakat mengetahui langkah yang sedang dilakukan.

Kebakaran kedua di Gedung Bapenda DKI menjadi perhatian karena terjadi hanya sekitar dua pekan setelah kebakaran besar pertama. Insiden terbaru terjadi di ruang arsip lantai 11 dan berhasil dilokalisasi setelah delapan unit pemadam serta 30 personel dikerahkan. Meskipun api dapat dikendalikan dengan cepat, gangguan pada pompa air gedung menjadi salah satu kendala dalam proses penanganan. Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut. Gedung juga belum beroperasi normal dan masih berada dalam pengawasan setelah dipasangi garis polisi. Pemeriksaan menyeluruh terhadap sistem keamanan gedung, kondisi bangunan, serta sumber munculnya api menjadi langkah penting agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.