Jakarta, 27 September 2026 –
Beras putih menjadi jenis beras yang paling umum dikonsumsi masyarakat Indonesia, tetapi sebenarnya ada banyak varietas beras dengan tampilan, tekstur, aroma, dan kandungan gizi yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat berasal dari varietas tanaman, pigmen alami pada lapisan luar biji, hingga proses penggilingan. Sebagian jenis beras mempertahankan lapisan dedak sehingga warnanya lebih gelap dibandingkan beras putih yang telah melalui penggilingan lebih intensif. Mulai dari beras merah hingga beras hitam, masing-masing menawarkan karakter tersendiri untuk diolah menjadi berbagai hidangan.
Beras merah merupakan salah satu yang paling mudah dikenali karena mempunyai warna merah kecokelatan. Warna tersebut berasal dari pigmen alami pada lapisan luarnya yang tetap dipertahankan setelah proses pengolahan. Dibandingkan beras putih yang telah digiling lebih jauh, beras merah umumnya memiliki kandungan serat lebih tinggi dan tekstur yang lebih kenyal. Rasanya juga cenderung lebih kuat dan sedikit menyerupai kacang sehingga memberikan karakter berbeda ketika disajikan sebagai pengganti nasi putih.
Jenis berikutnya adalah beras hitam yang mempunyai warna ungu sangat gelap hingga terlihat hampir hitam ketika masih mentah. Warna tersebut berkaitan dengan kandungan antosianin, yaitu kelompok pigmen yang juga ditemukan pada sejumlah buah dan sayuran berwarna ungu atau merah gelap. Setelah dimasak, warnanya biasanya berubah menjadi ungu pekat dengan tekstur yang cenderung kenyal. Beras hitam dapat digunakan sebagai nasi pendamping maupun diolah menjadi hidangan manis seperti bubur.
Ada pula beras cokelat atau brown rice yang pada dasarnya merupakan beras yang lapisan dedaknya masih dipertahankan. Kondisi tersebut membuat tampilannya berwarna cokelat muda dan teksturnya lebih padat dibandingkan beras putih. Karena proses penggilingannya lebih sedikit, kandungan serat dan sejumlah zat gizi pada lapisan luar biji masih lebih banyak dipertahankan. Waktu memasaknya umumnya juga lebih panjang dan membutuhkan jumlah air yang dapat berbeda dari beras putih biasa.
Beras basmati mempunyai tampilan yang mudah dibedakan melalui bentuk bulirnya yang panjang dan ramping. Beras yang banyak digunakan dalam masakan Asia Selatan dan Timur Tengah tersebut memiliki aroma khas serta menghasilkan nasi yang relatif terpisah setelah dimasak dengan teknik yang sesuai. Basmati kerap menjadi pilihan untuk hidangan seperti biryani dan berbagai olahan nasi berbumbu. Selain versi putih, tersedia pula basmati cokelat yang masih mempertahankan lebih banyak bagian luar bijinya.
Jenis lain yang cukup populer adalah beras melati atau jasmine rice. Beras aromatik yang sangat lekat dengan kuliner Asia Tenggara tersebut memiliki bulir panjang dengan aroma khas ketika dimasak. Teksturnya cenderung lebih lembut dan sedikit lebih lengket dibandingkan basmati. Selain varietas berwarna putih yang umum dijumpai, terdapat pula jenis brown jasmine rice yang mempertahankan lapisan luar sehingga mempunyai tampilan lebih kecokelatan.
Beras liar atau wild rice juga sering ditempatkan bersama berbagai jenis beras meskipun secara botani berasal dari kelompok tanaman yang berbeda dari padi yang umum dikonsumsi. Bentuknya panjang, ramping, dan berwarna cokelat tua hingga hitam. Setelah dimasak, teksturnya cenderung kenyal dengan rasa yang lebih kuat. Sementara itu, jenis ketujuh adalah beras ketan hitam yang memiliki warna ungu gelap serta tekstur sangat lengket setelah dimasak. Di Indonesia, ketan hitam banyak digunakan untuk bubur, jajanan tradisional, dan berbagai makanan penutup.
Beras merah, hitam, cokelat, basmati, melati, wild rice, hingga ketan hitam menunjukkan bahwa pilihan beras tidak terbatas pada beras putih biasa. Setiap jenis mempunyai karakter berbeda sehingga cara memasak, jumlah air, tekstur akhir, dan penggunaannya dalam hidangan juga perlu disesuaikan. Warna yang lebih gelap tidak otomatis membuat suatu jenis beras paling baik untuk semua orang karena kebutuhan gizi tetap bergantung pada pola makan secara keseluruhan. Dengan mengenali karakter masing-masing, konsumen dapat memilih beras berdasarkan kebutuhan nutrisi, selera, serta jenis hidangan yang ingin dibuat.




