Ilmuwan Takjub! Otak Hasil Rekayasa Bertahan Hampir 6 Tahun dan Punya “Ingatan”

Jakarta, 28 Agustus 2026 – Para ilmuwan dikejutkan oleh kemampuan organoid otak manusia hasil rekayasa laboratorium yang mampu bertahan hidup dan terus berkembang selama hampir enam tahun. Penelitian yang dipimpin tim Paola Arlotta dari Harvard University tersebut menunjukkan bahwa jaringan otak tiga dimensi itu tidak hanya bertahan dalam waktu sangat lama, tetapi juga mengikuti sejumlah tahapan perkembangan yang menyerupai otak manusia.

Temuan ini menjadi terobosan karena sebagian besar organoid otak yang dikembangkan sebelumnya hanya mampu bertahan selama beberapa bulan dan umumnya merepresentasikan tahap awal perkembangan otak. Dalam penelitian terbaru, para peneliti menemukan bahwa organoid yang dipelihara selama bertahun-tahun dapat mencapai karakteristik perkembangan yang lebih lanjut.

Bertahan Hampir Enam Tahun

Organoid merupakan model jaringan yang dibuat dari sel punca manusia dan dikembangkan dalam kondisi laboratorium. Bentuknya bukan otak manusia utuh, tetapi kumpulan sel yang dapat meniru sebagian karakteristik jaringan otak.

Dalam penelitian ini, sejumlah organoid korteks serebral mampu bertahan hampir enam tahun. Selama periode tersebut, ilmuwan memantau perubahan ekspresi gen, struktur sel, serta usia biologis jaringan menggunakan analisis hingga tingkat sel tunggal.

Hasilnya menunjukkan bahwa sel-sel di dalam organoid terus berkembang, termasuk neuron dan sel glia yang berfungsi mendukung neuron. Sejumlah tahapan perkembangan bahkan muncul dengan pola waktu yang menyerupai perkembangan alami otak manusia.

Usianya Mengikuti Perkembangan Otak Manusia

Salah satu hal yang paling menarik adalah kesesuaian antara usia kronologis dan usia biologis organoid.

Para peneliti menggunakan sejumlah sistem untuk memperkirakan usia biologis jaringan berdasarkan data perkembangan otak manusia. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa usia molekuler organoid berjalan sejalan dengan lamanya jaringan tersebut dipelihara.

Artinya, jaringan itu tidak sekadar bertahan hidup dalam keadaan yang sama. Sel-selnya benar-benar mengalami proses pematangan secara bertahap.

Sejumlah tanda perkembangan setelah kelahiran juga mulai muncul, menunjukkan bahwa model tersebut mampu menggambarkan tahapan perkembangan otak yang sebelumnya sulit dipelajari menggunakan organoid berumur pendek.

Neuron Bisa Membentuk Sambungan

Kemampuan lain yang membuat para ilmuwan tertarik adalah munculnya kematangan fungsional pada neuron.

Neuron di dalam organoid mampu membentuk hubungan satu sama lain dan menghasilkan aktivitas listrik. Aktivitas tersebut bahkan dapat dipertahankan setidaknya selama dua tahun pada kondisi kultur yang dirancang untuk mendukung fungsi neuron.

Temuan ini memperlihatkan bahwa organoid tidak hanya memiliki sel yang secara struktur menyerupai jaringan otak, tetapi juga dapat menunjukkan karakteristik aktivitas saraf.

Seolah Memiliki “Jam” Perkembangan

Penelitian tersebut juga menemukan petunjuk bahwa sel-sel organoid memiliki mekanisme internal yang mencatat perjalanan waktu perkembangannya.

Para peneliti menguji hal tersebut dengan memindahkan neuron yang lebih tua ke organoid yang lebih muda. Menariknya, sel-sel yang lebih tua tidak begitu saja kembali mengikuti tahap perkembangan lingkungan barunya.

Sel tersebut tetap menunjukkan karakteristik perkembangan yang lebih lanjut dibandingkan sel-sel yang lebih muda di sekitarnya. Temuan ini mengindikasikan adanya semacam “jam biologis” di dalam sel yang membuatnya dapat mempertahankan jejak perjalanan perkembangannya.

Dalam konteks sederhana, sel-sel tersebut seolah memiliki kemampuan untuk “mengingat” berapa lama mereka telah berkembang.

Bukan Berarti Bisa Berpikir Seperti Manusia

Meski disebut memiliki “ingatan”, temuan ini tidak berarti organoid tersebut memiliki kesadaran atau mampu mengingat pengalaman seperti manusia.

Istilah tersebut merujuk pada kemampuan sel mempertahankan informasi mengenai tahap perkembangan yang telah dilaluinya. Ketika dipindahkan ke lingkungan berbeda, sel tetap membawa karakteristik perkembangan sebelumnya.

Karena itu, organoid ini belum dapat dianggap sebagai otak mini yang dapat berpikir, memiliki kesadaran, atau menyimpan kenangan pribadi.

Buka Jalan Penelitian Penyakit Otak

Kemampuan mempertahankan organoid dalam jangka panjang berpotensi membuka peluang baru dalam penelitian gangguan perkembangan saraf.

Selama ini, keterbatasan umur organoid membuat ilmuwan kesulitan mempelajari proses yang baru muncul setelah perkembangan otak memasuki tahap lebih lanjut. Dengan model yang dapat bertahan bertahun-tahun, peneliti memiliki kesempatan untuk mempelajari perubahan biologis dalam periode yang jauh lebih panjang.

Penelitian mengenai gangguan seperti autisme dan berbagai kondisi neurodegeneratif juga berpotensi mendapatkan model laboratorium yang lebih relevan.

Masih Jauh dari Otak Manusia Utuh

Meski hasil penelitian sangat menjanjikan, organoid tersebut tetap memiliki keterbatasan. Jaringan yang dikembangkan di laboratorium jauh lebih sederhana dibandingkan otak manusia yang berinteraksi dengan pembuluh darah, sistem kekebalan, hormon, serta organ tubuh lainnya.

Para peneliti karena itu masih perlu mengembangkan model dengan struktur anatomi dan kompleksitas yang lebih tinggi.

Namun, kemampuan organoid bertahan hampir enam tahun sekaligus mengikuti sejumlah pola perkembangan otak manusia menjadi langkah penting dalam memahami bagaimana jaringan saraf berkembang setelah kelahiran.

Penelitian tim Harvard menunjukkan organoid otak manusia hasil rekayasa laboratorium dapat bertahan hampir enam tahun dan terus mengalami pematangan. Sel-selnya bahkan menunjukkan kemampuan mempertahankan jejak perkembangan sebelumnya ketika dipindahkan ke lingkungan yang lebih muda. Temuan ini bukan berarti organoid memiliki kesadaran atau ingatan seperti manusia, tetapi menunjukkan adanya mekanisme biologis yang membuat sel seolah “mengingat” perjalanan perkembangannya.

Related Posts

Airlangga Dorong LPS Jamin Simpanan Koperasi Setara dengan Perbankan

Jakarta, 24 September 2026 – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperluas cakupan perlindungan hingga dana masyarakat yang ditempatkan di koperasi. Usulan tersebut disampaikan dalam…

Rencana BLU Energi Disorot, Fungsi Pengadaan Dinilai Berpotensi Tumpang Tindih dengan BUMN

Jakarta, 23 September 2026 – Rencana pemerintah mengoptimalkan Badan Layanan Umum (BLU) sektor energi untuk mengatur penyediaan batu bara dan gas bumi bagi pembangkit listrik mendapat sorotan. Indonesian Resources Studies…

You Missed

Airlangga Dorong LPS Jamin Simpanan Koperasi Setara dengan Perbankan

Airlangga Dorong LPS Jamin Simpanan Koperasi Setara dengan Perbankan

Polisi Selidiki Penyebab Kebakaran di Terminal NPCT1 Jakarta Utara

Polisi Selidiki Penyebab Kebakaran di Terminal NPCT1 Jakarta Utara

Rencana BLU Energi Disorot, Fungsi Pengadaan Dinilai Berpotensi Tumpang Tindih dengan BUMN

Rencana BLU Energi Disorot, Fungsi Pengadaan Dinilai Berpotensi Tumpang Tindih dengan BUMN

Media Vietnam Ungkap Hadiah Juara FIFA ASEAN Cup 2026 Dikabarkan Turun 35 Persen

Media Vietnam Ungkap Hadiah Juara FIFA ASEAN Cup 2026 Dikabarkan Turun 35 Persen

Industri Makanan Olahan Hadapi Tantangan Bahan Baku hingga Efisiensi Proses Produksi

Industri Makanan Olahan Hadapi Tantangan Bahan Baku hingga Efisiensi Proses Produksi

Pramono Paparkan Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,52 Persen di Forum U20 New York

Pramono Paparkan Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,52 Persen di Forum U20 New York